KISAH MUNA

KISAH MUNA

Gambar

Namanya Ming Ming Sari Nuryanti. Tapi akrab disapa dengan Muna. Hari ini ia mengenakan gamis hijau, jilbab lebar dan tas ransel berwarna hitam, dia memasuki lobi Universitas Pamulang (UNPAM), Tangerang. Dia adalah mahasiswa semester 1 jurusan akuntansi. Usianya baru 17 tahun. Dan dia adalah salah satu mahasiswa terpandai di kelasnya.

Saat kelas usai, dia pergi ke perpustakaan. Muna sering berkata “Ilmu sangat penting. Dengan Ilmu saya bisa memimpin diri saya. Dengan ilmu saya bisa membahagiakan keluarga. Dengan ilmu saya bisa memimpin bangsa. Dan dengan ilmu saya bisa memimpin dunia..” Itu asalan kenapa Muna lebih senang ke perpustakaan saat waktu istirahat daripada tempat lain.

Sore hari setelah kuliah usai, Muna menuju salah satu sudut kampus. Di sebuah ruangan kecil, dia bersama beberapa temannya mengadakan pengajian bersama. Ini adalah kegiatan rutin yang biasa dilakukan Muna setiap harinya, yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswi di UNPAM.

Sepintas tidak ada yang luar biasa pada diri Muna. Orang yang tidak tahu siapa Muna, akan menganggap ia gadis biasa biasa saja. Namun sesungguhnya ia adalah gadis yang luar biasa.

Muna lahir di Jakarta, 28 April 1980 sebagai putri pertama dari tujuh bersaudara pasangan Syaepudin (45) dan pujiyati (42). Syaepudin, ayahnya, adalah seorang karyawan di sebuah tempat hiburan di daerah ancol, Jakarta Utara. Setiap hari ia mengumpulkan bola bowling . Sementara ibunya Pujiyati adalah seorang ibu rumah tangga yang sehari hari bekerja sebagai pemulung.

Lisa, adiknya yang pertama, duduk dibangku kelas 3 SMU Negeri I Rumpin. Sedangkan Melati, adiknya yang kedua, duduk dibangku kelas 2 di SMU yang sama. Kenny, adiknya yang ketiga, duduk dibangku kelas 6 SD Sukajaya. Sementara tiga adiknya yang lain juga masih sekolah disekolah yang sama. Romadon di kelas 5, Rohani di kelas 4 dan Mia di kelas 1.

Pada tahun 1994, dengan ekonomi yang pas-pasan Muna bersama keluarganya mengontrak rumah sangat sederhana di daerah Kosambi, Cengkareng. Orang tua muna berdagang rempeyek untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Walaupun kehidupan Muna cukup prihatin, makan sehari-hari boleh dikatakan tidak cukup bergizi, namun Muna dikaruniai kecerdasan di atas rata-rata.

Ketika masih berumur 4 tahun, Muna memohon kepada kepala sekolah SDN 02 Kosambi agar diterima sebagai murid kelas 1. Hasilnya menggembirakan, ia tidak mengalami masalah dan bahkan dapat naik ke kelas 2 dengan hasil yang memuaskan.

Saat Muna beranjak kelas 2 SD, yaitu tahun 1996 Muna bersama keluarga hijrah ke daerah Bogor, Rumpin. keluarga mereka membuka usaha warung makanan dengan modal yang pas-pasan. Setahun berjalan, usaha itu bangkrut. Hingga untuk bisa bertahan hidup mereka hanya mengkonsumsi bubur atau singkong. Kehidupan prihatin ini berjalan selama lima tahun.

Dalam keadaan yang sulit sekalipun prestasi belajarnya cukup menggembirakan. Semenjak SD hingga SMU Muna selalu mendapat peringkat tiga besar. Sebelum meninggalkan bangku SMU ia pernah mendapat juara 2 lomba puisi dan ia pun masuk kedalam sepuluh besar lomba membawakan berita pada peringatan hari bahasa pada waktu itu. Pada bangku kuliah pun ia masuk dalam peringkat sepuluh besar pada universitas Pamulang jurusan akuntansi. Potensi inilah yang membakar semangatnya dan memperoleh dukungan keluarga untuk terus belajar.

Suatu hari, ada seorang teman ayah Muna yang memberitahu bahwa gelas dan botol bekas air mineral dapat dijadikan uang . Saat itu juga serentak seluruh keluarga mengumpulkan gelas dan botol bekas air mineral. Hampir setiap hari keluarga mereka berbondong-bondong keluar sambil membawa karung dan terkadang pulang hingga jam tiga pagi. Gelas bekas yang dikumpulkannya ini dihargai delapan ribu rupiah untuk setiap kilonya. Dalam sehari Muna dapat mengumpulkan sebanyak satu karung gelas plastik bekas atau seberat satu kilo gram. Dari usaha yang baru ini membawa sedikit angin segar bagi keluarga Muna, terlebih bagi dirinya sendiri yang memang sangat bersemangat untuk menempuh pendidikan setinggi tingginya.

Tahun ajaran 2007-2008 masih dalam keadaan cukup prihatin Muna memberanikan diri memasuki bangku kuliah. Tekadnya bulat untuk memilih jurusan akuntansi yang dalam benaknya dapat memudahkan mencapai cita-citanya untuk dapat bekerja di Bank. Dengan biaya kuliah Rp. 900.000 per semester, Muna terpaksa mencicil setiap bulan sebesar Rp. 150.000. Jadi, apabila ia ingin kuliah maka ia pun harus bekerja keras siang malam

Setiap berangkat dan pulang kuliah, Muna tidak naik kendaraan karena tidak punya ongkos untuk membayar kendaraan umum. Setiap hari Muna pulang pergi berjalan kaki. Sambil berjalan kaki,  Muna memungut dan mengumpulkan plastik bekas minuman yang dia temui di sepanjang jalan.. Rumah Ming Ming memang jauh dari kampus. Setiap hari Muna berjalan kaki sehari kurang lebih 10 km. Selama berjalan itulah, dengan menggunakan karung plastik, dia memperoleh banyak plastik untuk dia bawa pulang.

Dia tinggal bersama ibu dan 6 orang adiknya yang masih kecil-kecil. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang mereka pinjam dari saudara mereka di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Di daerah Rumpin banyak tambang batu dan pasir. Jika beruntung, ada truk penggalian batu yang lewat, Muna bisa menumpang truk sampai ke rumahnya. Sopir truk yang lewat, sudah kenal denganya, sehingga mereka selalu memberi tumpangan di bak belakang.

Dalam kondisi seperti ini, cobaan datang lebih berat lagi. Ibu dan Bapaknya sering cekcok. Dalam rumah tangga yang dihimpit masalah ekonomi, percekcokan adalah makanan sehari hari. Bapak Muna, sering memaksa anak-anaknya yang masih kecil-kecil untuk mencari uang apa saja tidak peduli mau jadi pemulung atau pengemis. Jika hasilnya kurang memuaskan Ayah Syefuddin tidak segan segan menempeleng anak-anaknya.

Muna sebagai anak tertua dan cerdas, berani memprotes tindakan ayahnya. Tindakan Muna ini membuat ayahnya naik pitam dan mengusir Muna dari rumah. Dalam kondisi tertekan seperti ini akhirnya Muna minta ijin pada ibunya agar dibolehkan membawa adiknya ke tempat kost yang dibiayai dari hasil jerih payah Muna sendiri. Hal ini dilakukan agar adik-adiknya tidak disiksa oleh ayahnya.

Melihat penderitaan Muna ini, kawan kawan se-pengajian Muna turun tangan membantu. Namun hal ini justru semakin membuat ayah Muna semakin kebakaran jenggot dan ketika awak media datang untuk meliput kisah Muna, ayahnya justru memfitnah bahwa Muna telah mengikuti pengajian sesat dan menculik adik-adiknya. Berita ini akhirnya tersiar luas bahwa Muna adalah anggota kelompok pengajian sesat dan menculik adik-adiknya. Akhirnya Muna menulis surat klarifikasi untuk menjelaskan kemelut yang membelit keluarganya. Hingga kini, Muna masih terus berjuang jatuh bangun untuk meraih cita-citanya dan juga menyelamatkan adik-adiknya.

Kisah ini adalah kisah inspiratif dimana kita yang lebih beruntung daripada Muna, semestinya malu dan introspeksi diri. Kebanyakan dari kita sering mengeluh kurang ini dan itu. Bahkan jika makanan di rumah tidak enak sedikit saja sudah mengeluh. Uang jajan kurang juga mengeluh. Baru berjalan ke warung tidak sampai 200 meter saja malas. Semangat dalam belajar dan bersabar dalam meniti jalan kehidupannya membuat Muna dapat dikatakan memiliki suatu yang lebih diantara kawan sebayanya. Meskipun terkadang hanya makan sekali dalam sehari tidak membuatnya kehilangan energi dalam menuntut ilmu. Maka secara logika, kita yang masih bisa makan 3 X sehari apalagi jika lauknya daging keju dan susu, ditambah jajan dan roti bakery di rumah, semestinya bisa lebih berprestasi lagi daripada Muna. Jika Muna yang harus berjalan 10 km untuk kuliah, aktif dalam dakwah, semestinya kita yang memiliki motor bahkan mungkin punya mobil, semestinya bisa berkiprah lebih baik lagi. Semua keberuntungan dan anugerah dari Allah kelak akan ditanya dan dipertanggungjawabkan di Yaumil Qiyamah. Apa yang sudah Anda lakukan dengan semua keberuntungan itu?

Iklan

KISAH AMMAR BUGIS

 KISAH AMMAR BUGIS
Gambar

Ammar Haitsam Bugis adalah seorang pemuda yang mendapatkan musibah berat berupa kelumpuhan total sejak bayi berusia dua bulan. Hanya kedua mata dan lidahnya yang bisa bergerak. Ucapannya juga kurang jelas apabila ia berbicara. Untuk berjalan harus di dorong oleh pendampingnya dengan kereta bayi. Meskipun mengalami kelumpuhan total, tapi tidak menghalanginya untuk tetap terus menimba ilmu pengetahuan dan melawan segala rintangan dan tantangan. Ia menjadi teladan dalam semangat, tekad dan kemauan yg kuat. Belum lama Ammar diwisuda diantara ratusan mahasiswa lainnya yg normal fisiknya, ia lulus dari jurusan Jurnalistik di King Abdul Aziz Universiti di Jeddah KSA dg mendapatkan hasil cum laude (nilai istimewa) dan mendapatkan penghargaan langsung dari Gubernur   Makkah dan Wilayah Barat Amir Khalid bin Faishal.
 Ammar Bugis dilahirkan di Amerika Serikat tanggal 19 Shafar 1407H /  22 Oktober 1986 M dalam keadaan normal, ketika berusia dua bulan mengalami kelumpuhan total. Dokter yang menanganinya mengatakan bahwa umur Ammar tidak akan lebih dari dua tahun. Alhamdulillah ia masih diberi umur panjang oleh Allah sampai sekarang usianya 26 tahun. Waktu kecil ia sekolah di Amerika sampai kelas tiga SD di sekolah umum bersama anak-anak yang normal fisiknya dan nilai raportnya istimewa. Saat sekolah di Amerika, Ammar mendapatkan perlakuan yang baik dari pihak sekolah. Karena kondisi fisiknya yang cacat dan kesehatannya yang sering terganggu, Ammar sering tidak masuk sekolah. Pihak sekolah memakluminya dan mengutus guru wali kelas ke rumah Ammar untuk mengajar Ammar pelajaran yang tertinggal. Selain itu pihak Sekolah juga menemui ayah Ammar yg sedang mengambil program Doktor di Amerika, memberikan masukan kepada Ayah Ammar jangan sampai memberhentikan atau melarang Ammar berangkat ke Sekolah.Hal lain lagi yang menarik, dalam pelajaran olah raga Ammar tidak bisa mengikuti olah raga bersama teman-temannya, pihak sekolah menyiapkan alat-alat fisioterapi di sekolahnya untuk Ammar berolah Raga sekaligus sebagai bentuk pengobatan dan dipandu oleh seorang ahli fisioterapi. Selama Ammar belajar di Sekolah ada seorang pemandu khusus untuk menemani Ammar yang disediakan oleh pihak   Sekolah selama di sekolah. Ketika Ayahnya selesai dari studi S3 nya dan pulang ke Jeddah – Saudi Arabia, keluarganya tidak mendapatkan sekolah yg mau menerimanya dg alasan ia anak lumpuh yg tidak normal, sekolah tidak mampu untuk memberikan perhatian khusus kepadanya. Ammar disarankan untuk belajar di Sekolah Luar Biasa. Ammar tetap ingin belajar di sekolah umum dengan anak-anak yang normal.

Dari kecil Ammar merasa saya tidak ada bedanya dengan anak-anak yang normal, saya yakin bahwa saya mampu melakukan apa-apa yang mereka lakukan seperti belajar di sekolah yang formal. Ammar tidak ingin dikasihani orang lain. Akhirnya kakek Ammar dapat meyakinkan salah satu kepala sekolah dan diperbolehkan belajar di rumah (Home Schooling) dan saat tes datang ke sekolah mengikuti ujian. Alhamdulillah Ammar berhasil sampai lulus SMA dg hasil raport rata-rata 96 dari nilai 100. Cara Ammar belajar, cukup pendamping Ammar dari pihak keluarga menyiapkan buku pelajaran dan diletakkan disamping Ammar sambil berbaring ia membaca sendiri buku pelajaran, jika sudah selesai dua halaman maka pendamping Ammar membalikkan lembaran kertas di buku ke halaman berikutnya, begitu sampai selesai Ammar membaca buku. Allah berikan kekuatan Hafalan yang luar biasa, Masya Allah.

Ammar melanjutkan kuliah di King Abdul Aziz Universiti di Jeddah jurusan Jurnalistik. Ammar minat dengan dunia jurnalistik dan ingin membuktikan bahwa orang yang cacat secara fisik, orang yang berkebutuhan khusus mampu untuk sukses di berbagai bidang. Meskipun diawal mula kuliah mendapatkan tantangan dari sebagian dosen yang menganggap Ammar tidak pantas untuk diterima kuliah di universitas tersebut karena ia anak yang lumpuh total malah akan merepotkan civitas akademika. Ia tetap berjuang dan sabar menghadapi segala sikap yang tidak mengenakkan dan menyakitinya. Pernah suatu saat ketika   Ammar menuju kelas di kampus, dosen yang akan mengajar di kelas juga berjalan menuju Aula, ketika Ia melihat Ammar maka dosen tsb menyegerakan langkah kakinya mendahului Ammar masuk kelas dan segera mengunci pintu kelas. Pendamping Ammar segera mengetuk pintu kelas tapi dosen tersebut tidak membukakan pintu. Meskipun Dosen punya aturan bahwa siapa saja mahasiswa yang datang terlambat setelah ia masuk pintu kelas maka mahasiswa tidak boleh ikut belajar di jam pelajaran tersebut, tapi melihat kasus Ammar tadi, seharusnya dosen tersebut tidak perlu menyegerakan langkah dan mendahului Ammar. Apalagi ia seorang penderita Lumpuh termasuk orang yang berkebutuhan khusus (menurut istilah Ammar “orang yang berkemampuan khusus”) seharusnya mendapatkan dispensasi dan perhatian khusus dari pihak sekolah/kampus dan masyarakat. Ammar berhasil mendapatkan nilai IP 4,84 dari maksimal angka 5. Dan berhasil sampai lulus dengan nilai istimewa dan mendapatkan rangking pertama.  Ammar juga hafal Al Quran 30 juz, yg ia hafal dalam dua tahun saat Ammar berusia tiga belas tahun.
Ammar mempunyai cita-cita ingin menjadi wartawan. Maka ia berusaha bersungguh-sungguh dengan segala potensi yang Allah berikan kepadanya, punya tekad dan kemauan yang kuat agar dapat mencapai cita-citanya. Ia tidak ingin menjadi beban bagi keluarga atau orang lain. Dia harus mandiri.  Ammar berhasil mencapai cita-citanya menjadi wartawan di harian “Al Madinah”   di Jeddah selama lima tahun kemudian sekarang sbg wartawan di Harian Ukadz, Jeddah. Ia  meliput berita Sepak Bola dan dan menulis di kolom Kemasyarakatan. Sungguh, orang-orang seperti Ammar banyak terdapat di masyarakat, mereka butuh dukungan kita, mereka perlu diberi kesempatan untuk sekolah di sekolah dengan anak2 yg sehat, untuk bekerja bersama teman-temannya yang sehat. Sering masyarakat bahkan anggota keluarga sendiri bahkan mematikan potensi dan kemampuan dari orang-orang yang berkebutuhan khusus.
Ammar bercita-cita untuk melanjutkan program   Master dan Doktor diluar negeri. Alhamdulillah ketika penulis berkunjung ke rumahnya di Jeddah, Ammar bercerita bahwa Alhamdulillah ia diterima menjadi dosen di salah satu universitas di Dubai, Emirat dan mendapatkan beasisa untuk melanjutkan S2 di sana. Seorang Putera Mahkota Dubai bernama Hamdan bin Muhammad bin Rasyid Al Maktum dijuluki Fazza ‘ usianya belum sampai  tiga puluh tahun, sempat melihat film Ammar di You Tube, setelah itu ia mengundang Ammar ke Dubai.Sesampainya Ammar di Dubai disambut dengan sambutan resmi seperti tamu kenegaraan, dijamu dengan jamuan istimewa dan perlakuan yang sangat baik. Ammar ditanya apa keinginannya. Ammar ingin menjadi dosen dan ingin melanjutkan S2. Putera Mahkota memenuhi keinginan Ammar untuk menjadi dosen dan memberikan bea siswa untuk Ammar melanjutkan S2 nya di Dubai. Rumah, mobil dan gaji yang besar diberikan kepada Ammar. Putera Mahkota Dubai waktu pertamakali jumpa dengan Ammar mengatakan bahwa ketika saya melihat tayangan film ttg anda, saya merasa rendah dan belum berbuat sesuatu amal pun. Wahai Ammar selama saya masih diberi Allah umur panjang maka saya akan terus mendukungmu sampai salah satu dari kita berdua menemui ajalnya.

Beliau telah menulis buku tentang kisah hidupnya dengan judul “Qohir Al Mustahil” (Penakluk Kemustahilan) yang edisi terjemahnya telah diterbitkan oleh penerbit Republika. Buku yang diberi kata pengantar oleh Tujuh orang diantaranya Dr. Muhammad Al Arifi dan Tiga orang Menteri berisikan   motivasi untuk orang-orang berkebutuhan khusus dan untuk kita yang yang sehat secara fisik bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, untuk mencapai kesuksesan dibutuhkan keuletan, tekad yang kuat, pantang menyerah  serta tawakal kepada Allah. Buku yang berisikan biografi kehidupan beliau penuh dengan pelajaran, motivasi dan inspirasi. Buku tersebut patut dibaca oleh para Guru dan  Dosen, pelajar dan Mahasiswa, pengurus Sekolah, aktivis sosial, Mubaligh dan Da ‘i, para  Orang Tua dan Anak, Wartawan dan Penulis, Pejabat dan para Karyawan, lebih-lebih lagi yang bekerja di Dinas Pendidikan dan Sosial.  

~ AKU … WANITA PALING BAHAGIA ~

Ketika  langkah  ini  mulai  tertatih ….

Mungkin  perih  … dan  secuil  putus  asa 

terkadang  menghampiri  diri  ini …

Aku  mencoba   bertanya  ….

Haruskah  kuberhenti  disini … ???

 

Asakupun  berkata  … “TIDAK”

Aku  harus  teruskan  langkah  ini

Mengejar  kembali  cahaya  itu …

Cahaya  yang  hampir  redup  …

 

Januari  2011 … dengan  sisa  asa  yang masih aku  milikki

Kubuka  mata  dan  hatiku …  kutatap langit yang terbentang

Kutemui  berjuta  harapan  masih  tersisa  disana …

 

Ya  ALLah  …   Ya  Rabbi

Aku  tidak  pernah  menyesali 

Semua  yang  telah  ENGKAU  berikan  untukku

Begitu  banyak  anugrah  cinta yang  ENGKAU  curahkan untukku

Begitu  luas  limpahan  kasih dan sayangMU yang senantiasa menyertaiku

 

Ya  ALLAH …

Alhamdulillah … ENGKAU  telah  memberi  aku  rasa  sakit

Alhamdulillah … ENGKAU  telah  memberi  aku  rasa  kehilangan  

Alhamdulillah … ENGKAU  telah  menghadirkan  riak  dalam  hidupku

Alhamdulillah … ENGKAU  telah  menghujani kehidupanku dengan ujian dan cobaan

Alhamdulillah  ya ALLA H  ….  ENGKAU  senantiasa  memberi aku  kekuatan  dan  kesabaran

 

Aku  bahagia  …  meski  gemuruh  ombak  terkadang menghantam  diriku

Aku  bahagia  …  meski  deru  ujian  dan  cobaan  tak  pernah  berhenti  menerjangku

Aku  bahagia  …  saat  ujung  sajadahku  basah  kerena  tetesan  air mata ini

Aku  bahagia  …  saat  segala  takdir  dapat  kuterima  dengan  pasrah

Aku  bahagia  …  saat  segala  yang  ENGKAU  sajikan  dikehidupanku …

kupandang  sebagai  Anugrah  yang  tak  terkira …

Aku  bahagia  … ketika  orang  percaya  atau  tidak  percaya  …  bahwa  aku  bahagia

Dan  aku  bahagia  … karena  ENGKAU  telah  menjadikan  aku  WANITA  YANG  PALING BAHAGIA

ALLAHU AKBAR  …  ALLAHU  AKBAR  … ALLAHU  AKBAR

MAHA  BESAR  ENGKAU   YA  ALLAH  …  yang  telah  membuat  aku  merasa  menjadi

WANITA  YANG  PALING  BAHAGIA …

 

 

#Senja … @010111#

:::>> SENJA MERINDUKAN PAGI <<:::

:::>> SENJA MERINDUKAN PAGI <<:::
Gambar

Hidup adalah perjalanan menuju_MU
Ketika ujian_MU datang mendera …
Ketika segalanya telah dicoba …

Dan ketika kelihatannya tidak ada jalan …

Sungguh … Yaa Rabb,
Buatlah aku agar selalu ingat …
Bahwa perjalanan kehidupan terkadang memang lambat …

Dan saat itu …
Aku mungkin hanya perlu berhenti dan beristirahat …
Sepanjang lintasan peristiwa yang aku tempuh …

Dan saat itu …
Saatnyalah aku mencoba untuk mengerti …
Untuk lebih banyak berBINCANG kepada_MU …

Dan yakin …
Bahwa keHANGATan hanya bisa kuNIKMATI jika aku pernah keDINGINan
Cahaya hanya bisa kudapatkan jika aku pernah dalam keGELAPan .. dan,
keGEMBIRAan hanya bisa kuSYUKURI jika aku pernah merasakan keSEDIHan

Yaa RABB …
Saat hati ini jenuh jejaki diri …
Saat keLETIHan ini begitu memBELENGGU JIWA yang SEKARAT …
Saat itulah … Sungguh,
Hanya dengan CAHAYA dan perTOLONGan-MU-lah aku dapat melewati LORONG yang GELAP itu ..

melewati MALAM dan menembus keGELAPan, hingga aku sampai pada pagi_MU.~Dengan Pena_Senja~

^LorongHatiYangBerkarat^.

:::>> SAAT NAFAS TERAKHIR <<:::

:::>> SAAT NAFAS TERAKHIR <<:::

Bismillah ….

Wahai diri …Demi ALLah,
Sungguh keMATIan dapat menghancurkan NIKMAT yang telah diberikan kepada manusia, Demi ALLah …
Sungguh, surga adalah tempat para NABI …Orang-orang JUJUR … para Syuhada …
Sungguh, mereka adalah seBAIK BAIK TEMAN .. Berjalanlah kearah mereka …
bersungguh-sungguhlah dalam mencari surga_NYA, serta percepat langkahmu untuk menggapainya …

Ketahuilah kawan …
Betapa pentingnya waktu dalam kehidupan kita …
Betapa pentingnya menggunakan waktu dalam keTA’ATan dan berBEKAL untuk Akhirat …

Upayakanlah untuk menggunakan waktu sebaik mungkin dan tidak menyia-nyiakannya sedikitpun …

Bayangkanlah … saat Malaikat Maut telah menuju kearahmu …
Bayangkanlah … saat Malaikat Maut datang menjemputmu …
Namun engkau tidak mempunyai ‘tambahan bekal’ sedikitpun kecuali ‘dosa dosa’ …

Celakalah engkau wahai diri …
Siapa yang sudi SHALAT untukmu setelah engkau mati …???
Siapa yang rela berPUASA untukmu setelah engkau mati …???
Siapa yang akan membuat ALLah Ridha kepadamu setelah engkau mati …???

Wahai diri …
Tidakkah engkau meNANGISi dan meRATAPi sisa sisa hidupmu ..???

Hai JIWA yang terLENA oleh GEMERLAP DUNIA …
yang keMATIan menjadi janjimu … KUBURAN menjadi RUMAHmu …
TANAH menjadi ALAS TIDURmu … Dan CACING CACING menjadi TEMANmu
saat menunggu keDAHSYATan KIAMAT QUBRO,

Pernahkah engkau menyadari …
Bahwa engkau akan melakukan PERJALANAN yang belum pernah engkau lalui sebelumnya ..

Berjalan diatas JALAN yang belum pernah engkau lewati sebelumnya …
Mengunjungi TUANmu yang sama sekali belum pernah engkau melihat_NYA ..
Dan meRASAkan keTAKUTan keTAKUTan yang belum pernah engkau rasakan sebelumnya …

Maka berLINDUNGlah sayang …
BerLINDUNGlah kepada ALLah dari MALAM yang PAGInya menuju ke NERAKA …
Jangan pernah meREMEHkan KEMATIAN … !!!!
Sebab ia adalah AKHIR seorang mukmin mendapat PAHALA …
PERBANYAKLAH BEKAL … agar dirimu SIAP menyambut tamu yang akan memutus kenikmatanmu.

” Sungguh mengHERANkan orang yang tau bahwa keMATIan pasti terjadi … tapi ia masih bisa bersenang-senang… Sungguh mengHERANkan pula orang yang tau bahwa NERAKA itu benar adanya … namun ia masih bisa tertawa, Sungguh mengHERANkan lagi orang yang menyaksikan dunia akan digulung berikut penghuninya … namun ia masih bisa tenang didalamnya … Sungguh mengHERANkan orang yang mengerti bahwa TAKDIR itu benar adanya … tapi ia masih mengingkarinya.”

PERSIAPKANLAH DIRI UNTUK MENYAMBUT KEMATIAN … SELAMAT DATANG KEMATIAN.. !!!

~ Semoga Bermanfaat_Salam Ukhuwah_keep Hamasah for Istiqomah ~

^Dengan Pena_Senja^

**SEBELUM NAFAS TERAKHIRMU … !!!**

~**~ SEBELUM NAFAS TERAKHIRMU … !!! ~**~

 

Bismillah …

“Barang siapa yang tidak ridho kepada ALLah karena larangan-NYA…pastilah ia tidak akan selamat dari larangan-NYA”

Sahabatku …
Jika memang dirimu ridho ALLah SWT sebagai Tuhanmu … Muhammad SAW sebagai Nabimu … Al Qur’an sebagai kitabmu … dan Islam sebagai agamamu, lalu masihkah ada alasan bagimu untuk berkata ..” AKU DENGAR dan AKU MENENTANGNYA…???

“Jika alasanmu adalah karena belum mendapatkan hidayah-NYA … maka kukatakan kepadamu : ” Barangsiapa yang memusatkan hatinya kepada ALLah, insyaALLah akan terbukalah sumber sumber hikmah dalam hatinya … sehingga mengalirlah melalui lisan dan perbuatannya… Selama hatimu masih terBEBANi oleh cinta keDUNIAwian maka selama itu pula AGAMAmu akan selalu terKOYAK … TAUHIDmu tidak akan pernah JUJUR … dan AKIDAHmu akan jauh dari keMURNIan”

Sahabatku …
janganlah engkau merasa terlambat untuk kembali kepada Jalan yang diridhoi-NYA, karena engkau merasa Jalan2 itu telah terbendung oleh dosa-dosamu… bukankah ALLah Maha Pengampun dan bukankah ALLah sangat menyukai hamba-NYA yang mau berTOBAT …??? Dosa dosa kita demikian besar ,,, namun yakinlah Ampunan ALLah jauh lebih besar … Jika demikian lalu alasan apalagi yang menghalangimu untuk berTAUBAT…???

Ketahuilah sahabatku …
semua urusan dunia dan akhirat terletak pada dua perkara, yaitu : tenangnya hati dengan rizki dari arah Dunia, namun bersungguh-sungguhlah dalam mencari rizki untuk bekal kita menuju kampung Akhirat. Jadikanlah Dunia ini hanya sebagai “Jembatan” untuk menuju Akhirat, oleh karena itu … sebrangilah ia dan janganlah kamu menjadikannya sebagai “TUJUAN” … Orang yang memiliki AKAL tidak akan bersusah payah membangun gedung-gedung ataupun istana istana diatas jembatan, karena suatu hari jembatan itu akan hancur dan musnah, dan itu adalah sebuah kePASTIan ..!!!

Oleh karena itu sahabatku ,,,, sebelum perjanjian Jasad dengan Rohmu berAKHIR, tinggalkanlah keCINTAanmu terhadap “dunia” sebelum kamu benar-benar ditinggalkan olehnya. Dan mohonlah Ridho ALLah Ta’ala sebagai Tuhanmu sebelum kamu berJUMPA dengan-NYA.
Makmurkanlah rumah yang kamu tinggali dengan keTA’ATan dan kePATUHan penuh kepada ALLah Azza wa Jalla… LAKSANAKAN semua yang menjadi perintah-NYA dan TINGGALkan semua yang menjadi larangan-NYA … serta TAKUTlah kepada murka-NYA… sebelum rumahmu pindah ke LIANG KUBUR … karena sungguh sahabatku KEMATIAN ITU ADALAH PASTI.

Maha Suci ALLah … semoga ALLah menjadikan amal-amal kita sebagai Ghanimah (keuntungan) dikampung Akhirat kelak, dan menCEGAH “hawa nafsu” kita dari keSENANGan yang akan menghapuskannya. ALLahuma Aamiin

Semoga catatan kecil ini dapat memberi manfaat dalam meLURUSkan hati kita dan menjadikan hati kita ridho terhadap ALLah dan ALLahpun ridho terhadap kita. ALLahuma Aamiin.

Wallahu’alam
Barakallahu Fikum_Salam Ukhuwah
Dengan Pena_Senja

~**KETIKA QT KEMBALI KEPADA HATI**~

Bismillah …

Kita … bukanlah malaikat
Yang hanya dikaruniai ketaatan
Dan bukan pula setan …
Yang diciptakan dalam bentuk kelaknatan

Kita adalah manusia …
Yang dikaruniakan akal dan ruh
Yang diciptakan untuk memilih antara
Ketaatan dan kefasikan …

Hidup adalah pilihan …
Setiap manusia memiliki hak penuh
Atas pilihan pilihan hidupnya
Memilih menjadi sangat baik …
Sedikit baik … atau sangat jahat sekalipun

Tidak selalu dorongan untuk melakukan kebaikan mendominasi hati Qt, Terkadang sometimes, kita merasa dorongan hati mengarah kepada yang salah
Dan saat itulah … tantangan yang harus Qt hadapi sebagai manusia

Sebagai hamba …. Kita terikat pada perjanjian dengan penciptanya… Mengikuti dorongan untuk melakukan sesuatu yang akan menjauhkan hati dari Ilahnya adalah tindakan dan sikap yang sangat bertentangan dengan kodrat penciptaan kita sebagai manusia.

Ketika ALLah dan aturan_NYA kita kesampingkan atau mungkin telah kita tinggalkan …
Disinilah … awal dari seluruh persoalan dan kerumitan hidup yang kerap terjadi pada kita.

Maka … mari kita kembali kepada hati
Lihat hati kita … tak ada lagi kata “Qt”
Karena … Qt memang bukan pemilik hati ini

Hati … adalah rumah ALLAH
Rumah ini tidak akan baik … tidak akan kokoh … dan tidak akan jujur Jika kita tidak pernah m’perhatikan dan selalu m’nyadari bahwa ALLah selalu melihat Qt

Maka … ketika hati t’ombang ambing, dan ketika hati tak tentu arah … Sebagai makhluk ciptaan_NYA … tidak ada yang bisa Qt lakukan kecuali kembali pada semua aturan ALLah dan b’pegang teguh pada SANG PENGUASA HATI … dengan menguatkan harapan dalam doa …

” Wahai DZAT yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami untuk selalu istiqomah dalam dien_MU dan dalam mentaati aturan dan menjauhi larangan_MU “ … Aamiin

~Salam Ukhuwah_Salam Persahabatan_Barakallahu fiikum~

^Dengan Pena _ Senja^

DIVONIS BAYINYA BAKAL CACAT, DISURUH MENGGUGURKAN KANDUNGAN

DIVONIS BAYINYA BAKAL CACAT, DISURUH MENGGUGURKAN KANDUNGAN

Gambar

 

Terkadang berat rasanya ketika harus meyakinkan diri dengan sebuah pendapat yang berlawanan dengan mayoritas orang. Terlebih jika hal itu menyangkut masa depan seseorang. Jika ternyata kehidupan orang tsb menjadi sulit, niscaya saya akan ikut disalahkan terus menerus.

Peristiwa itu terjadi 14 tahun silam ketika seorang ibu muda yang sedang mengandung ternyata terkena penyakit cacar air. Hal ini membawa efek kepada janin nya. 3 orang dokter kandungan sudah didatangi dan semua berpendapat bahwa janin dalam kandungannya akan lahir cacat, dan disarankan untuk menggugurkan kandungan. Kebetulan suami ibu itu juga seorang dokter kandungan, juga menyarankan isterinya untuk menggugurkan kandungan. Orang tua dan mertua juga semua setuju untuk menggugurkan kandungan.

Ketika saya diminta pendapat mengenai masalah ini maka hampir 1 bulan lamanya memikirkan hal ini. Hal ini terasa berat karena di satu sisi saya cenderung kepada kaidah umum bahwa membunuh jiwa tanpa alasan yang dibenarkan itu adalah dosa termasuk membunuh anak (janin). Islam sangat tidak memudah-mudahkan dalam urusan menghilangkan jiwa.

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang Allah haramkan (untuk membunuhnya) (Q.S. 17:33)

Ketika datang wanita untuk berhijrah ke Madinah, Allah menyuruh untuk menguji mereka dan berjanji untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina  dan tidak membunuh anak-anak (Q.S. 60:12)

Namun di sisi lain bayangan mengenai bahwa janin tersebut akan lahir cacat dan menderita seumur hidup sangat memberatkan saya. Demikian pula membayangkan betapa sulitnya batin sang ibu ketika harus memelihara dan membesarkan anaknya yang cacat permanen. Dokter mengatakan bahwa statistik menunjukkan 99% janin yang terkena cacar air akan lahir cacat.

Setelah hampir sebulan menimbang-nimbang termasuk juga bertanya kepada guru saya yaitu yang Dr. Salim Segaff Al-Djufri, maka saya memantapkan pada pendapat untuk tidak mendukung penguguran kandungan. Saya mendorong dan menghimbau dengan sangat agar ibu itu mengurungkan niat untuk menggugurkan kandungannya. Sikap ini diambil dengan pertimbangan bahwa :

Pertama, janin telah berumur lebih dari 6 minggu sehingga dapat dikatakan telah berbentuk dan telah bernyawa

“Dari Hudzaifah bin Usaid ia berkata bahwa aku mendengar dari Rosulullah SAW bersabda : Apabila nutfah telah berumur 42 malam maka Allah mengutus malaikat lalu dibuatkan bentuknya, diciptakan pendengarannya, dan penglihatannya, kulitnya, dagingnya dan tulangnya” (H.R. Muslim)

“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan Ruh (ciptaan) Nya” (Q.S. 32:9)

“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya maka kutiupkan kepadanya Ruh (ciptaan) Ku” (Q.S. 15:29 dan 38:72)

Kedua, menggugurkan kandungan hanya dibolehkan bila membahayakan nyawa sang Ibu. Sedangkan dalam kasus ini nyawa Ibu tidak dibahayakan. Ketiga, andaikan janin lahir cacat, bentuk cacatnya adalah bisu, tuli atau tidak sempurna organ tubuh lainnya. Dimana hal ini merupakan bentuk cacat yang umum terjadi di masyarakat dan banyak pula orang tua yang memelihara anak yang cacat. Sedangkan banyak kisah dimana kecacatan ini tidak menghalangi untuk berprestasi. Bahkan Amadeus Mozart seorang komponis orchestra terkenal adalah seorang tuli. Sehingga kekhawatiran ini adalah karena beratnya hati melihat buah hatinya cacat dan berat hati jika sampai memiliki atau memelihara anak yang cacat. Maka sesungguhnya apabila mendapat anak yang cacat, hal itu merupakan ujian bagi orang tuanya dan tidak dapat dijadikan landasan untuk tidak menghendaki anak tersebut atau menggagalkan bayi tersebut lahir ke dunia.

Keempat, walaupun data statistik yang konon 99% akan lahir cacat itu masih menyimpan peluang 1% lahir normal. Artinya belum tentu ia lahir cacat. Apabila akhirnya benar bayi tersebut lahir cacat maka orangtuanya harus menerima dengan ikhlas sebagai ujian dan amanah dari Allah. Mereka harus tetap membesarkannya dengan penuh kasih saying dan tidak boleh membencinya terlebih jika membunuhnya.

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin” (Q.S. 6:151 dan 17:31)

Maka situasi ini bisa disamakan dengan orang yang membunuh anak karena takut tidak bisa memberi makan anaknya (miskin). Intinya adalah tidak mau mengalami kesusahan, entah itu susah karena kemismkinan atau dalam kasus ini adalah susah karena memiliki anak yang cacat.

Ketika hal ini saya sampaikan kepada sang ibu, sempat saya dikecam karena dianggap sebagai pihak yang memprovokasi dan menyebabkan kebingungan yang luar biasa bagi sang ibu. Saya menyaksikan sendiri bagaimana sang ibu siang malam menangis dan panas dingin memikirkan hal ini. Wajar saja di satu sisi ia sangat khawatir dan takut jabang bayinya akan lahir cacat. Sementara di sisi lain ia juga khawatir melakukan dosa besar dengan membunuh janin dalam rahimnya.

Akhirnya Allah jua lah yang memberikan ketentraman dan kemantapan dalam hati sang ibu tadi untuk memelihara janinnya dan melahirkan dengan selamat. Dan terbukti walaupun ilmu kedokteran menyatakan 99% akan lahir cacat, ternyata Allah berkehendak memberikan peluang yang 1% itu.

Kini bayi itu telah menjadi pemuda yang tegap sehat tanpa kurang suatu apapun, tingginya telah melampaui ayahnya, walaupun baru kelas 2 SMP. Membayangkan peristiwa 14 tahun lalu, betapa ia tidak tahu jika nyaris dirinya tidak dilahirkan ke dunia ini. Anak itu adalah keponakan kusendiri. Mudah2an kisah ini bermanfaat bagi kita semua.

AKU TERJERUMUS CINTA TERLARANG

 AKU TERJERUMUS CINTA TERLARANG KARENA JIN

  GambarSedikit-sedikit kok jin, apa-apa kok disalahin jin. Itu yang kini sering terdengar di telingaku ketika aku mengatakan pada keluargaku yang sulit diajak ibadah atau kepada kawan-kawanku yang sulit keluar dari kemaksiatan. Kalau bukan karena aku alami sendiri dan bukan karena bimbingan tim ruqyah syari’ah yang menyadarkanku akan konspirasi iblish dan kawan-kawannya, niscaya aku pun tidak akan percaya dengan semua ini.

Setelah mengalami sendiri dan membuktikan keterlibatan jin dalam perbuatan maksiat anak manusia, aku pun sering mengajak teman-temanku yang mengalami gejala mirip dengan ku, dan semua itu semakin meyakinkan diriku, bahwa pada kebanyakan perilaku menyimpang anak manusia di sekeliling kita, tidak lepas dari peranan jin di dalamnya.

Darimana aku harus bercerita ya? Bingung dan berat rasanya harus mengingat dan menceritakan semua ini. Karena sebenarnya aku telah menguburnya dalam-dalam dan berusaha melupakan kejadian ini. Tapi agar hal ini dapat menjadi pelajaran bagi orang lain, maka aku bersedia menceritakannya.

Sebut saja namaku “W”, lahir beberapa puluh tahun silam di kota “K”, Provinsi “JT”. Aku lahir dan diasuh oleh keluarga yang harmonis dan boleh dikata berkecukupan. Ayah ku adalah orang yang semangat untuk belajar dan terus belajar. Karakter ini menurun pada diriku.

Maka sejak kecil prestasiku cemerlang dan bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di kota “S”. Meski sibuk dengan kegiatan kuliah dan ekstra kurikuler, hal itu tidak mempengaruhi nilai akademisku.

Pengalaman di organisi dan IPK yang tinggi memudahkanku mendapatkan pekerjaan. Hingga sekarang, terbilang sudah lima perusahaan yang pernah kulewati. Semuanya dalam posisi yang strategis dan sangat menjanjikan. Sekarang, aku menjadi asisten manajer di PMA Jepang.

Enam tahun lalu, aku mengakhiri masa lajangku. Alhamdulillah, Allah mempertemukanku dengan mas “H” yaitu angkatan di atasku waktu kuliah dulu. Mas “H”, waktu kuliah dulu sama-sama aktif di organisasi. Saya sering bertemu dan bertukar pikiran dengan mas “H”. Tapi entah kenapa waktu itu belum ada perasaan apa-apa. Hubungan kami masih sebatas teman satu organisasi yang sering menyuarakan sikap yang sama.

Dan aku tidak mengira jika kini mas “H” yang kukenal dulu menjadi pendamping hidupku. Aku mengenalnya sebagai orang yang sangat baik, penyabar dan pengertian.

Kehadiran Mas “H” di sampingku, kian menguatkan semangat. Aku yang memang senang dengan tantangan baru dalam bidang yang kugeluti tidak memupus langkah dengan meninggalkan dunia kerja. Aku bersyukur, Mas “H” sangat memahami diriku. Ia memberiku kebebasan menjadi ratu dalam rumah tangga tanpa melepaskan karir. Tentu dengan catatan, selama tidak mengganggu tugas utamaku sebagai istri dan ibu bagi anakku.

Di tahun pertama pernikahan kami, Allah menganugerahi kami, seorang bayi laki-laki yang tampan.. Sebuah anugerah yang tidak terhingga. Kehadirannya semakin melengkapi kebahagiaan kami. Letih dan lelah setelah seharian berkutat dengan tugas kantor, terasa hilang, kala mata memandang si buah hati. Kehadirannya menjadi pelipur lara.

Pindah kerja

Setelah lima tahun bekerja sebagai asisten manajer di salah satu perusahaan asing, aku memutuskan mencari tantangan baru di tempat lain. Aku pindah ke perusahaan garmen. Lima bulan di sana, aku beralih ke perusahaan baja. Nah, ketika bekerja di perusahaan baja tersebut, ada sebuah perusahaan yang baru dirintis menawariku bekerja di tempat mereka.

Sebenarnya, aku masih enjoy di perusahaan baja. Data lamaran kerjaku yang terpampang di internet masih ada. Perusahaan tersebut mencari karyawan untuk posisi tertentu dan kebetulan cocok dengan keahlianku.

Tiga kali mereka menghubungiku. Awalnya, aku menolak dengan halus. tapi mereka tetap gigih. Mereka terus mengejarku hingga akhirnya hatiku pun luluh. Suatu hari, dengan diantar Mas “H”, aku menyelidiki perusahaan tersebut. Ternyata memang baru dibangun. Plat nama perusahaan saja masih belum terpasang.

Namun, di balik itu semua, aku melihat masa depan perusahaan tersebut cerah. Modalnya kuat. Ia juga mendapat garansi dari seorang konglomerat ternama. Akhirnya dengan segala keterbatasan yang ada, kuputuskan menerima tawaran mereka.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di perusahaan tersebut, aku melihat wajah-wajah mereka cukup welcome dan hormat. Aku dipercaya sebagai pimpinan setingkat asisten manajer. Menggantikan “E”, eksekutif, yang dimutasi ke bagian lain. Saat penyerahan tugas itu, “E” menyebut satu nama yang perlu diberi perhatian lebih. “R”, namanya. Ia bawahan langsung “E”. Bukan lantaran prestasi “R” yang menonjol, tapi lebih disebabkan oleh sikapnya yang kurang bagus. Susah diatur, etikanya tidak dan bagus dan yang lebih parah, “R” terlalu santai.

Catatan singkat itu kuperhatikan. Aku mengumpulkan segala informasi yang terkait dengan bidang kerjaku. Dari informasi yang kudapat, aku menyimpulkan bahwa konflik antara “E” dan “R” lebih disebabkan oleh gaya kepemimpinan “E” yang one man show. Ia kurang memberi kesempatan dan pelatihan kepada bawahannya. Di saat yang sama, ia meminta mereka bersikap professional.

Gaya kepemimpinan itu yang ingin kurubah. Aku menginginkan agar semua bawahan dapat bekerja secara tim dan memiliki tanggung jawab. Pada saat yang sama, aku melatih dan membimbing mereka agar dapat mengerjakan tugas sesuai dengan standar yang ditentukan perusahaan. Demikian pula terhadap “R”.

Setelah sekian minggu, ada perubahan positif atas kinerjanya.  Walau pada akhirnya, aku mengakui bahwa catatan yang dibe”R”n “E” benar adanya.  Meski demikian, hal itu tidak menjadi penghalang hubungan di antara kami. Mungkin karena sama-sama perempuan, sehingga aku lebih bisa memahami sikapnya.

Baru tiga bulan bekerja, aku dan Mas “H” dikejutkan dengan kabar gembira. Aku positif hamil. Memang, sudah kami rencanakan untuk segera menimang anak yang kedua. Karena anak yang pertama sudah berusia lima tahun. Tapi tetap saja kehamilanku itu menjadi surprise tersendiri. Perasaan haru sekaligus bahagia menyelimuti diriku bersama suami menapak hari-hari di awal tempat kerja yang baru.

Semakin tambah bulan kurasakan beban di perutku semakin berat. Ya, memang itu manusiawi sekali. Walaupun berat, aku masih tetap semangat bekerja. Apalagi tergolong orang baru sekaligus pimpinan. Kira-kira menginjak bulan ke enam masa kehamilanku atau kira-kira 9 bulan masa kerjaku. Nampak ada keanehan dalam diriku. Entah apa pemincunya dan kapan mulainya, rasanya seperti air yang mengalir, kudapati diriku tidak seperti yang dulu lagi.

Aku mulai sensitif, cepat marah dan mudah tersinggung. Awalnya Mas “H” mengira kalau itu adalah gejala alami dari ibu yang sedang hamil. Puncaknya, aku malas bekerja. Aku lebih memilih mengurung diri di kamar ketimbang bercengkerama dengan suami dan anak-anak bila libur tiba.

Benar-benar aku merasakan kondisi yang sangat payah. Aku tidak mau lagi bekerja. Entah karena apa. Rasanya sangat berat untuk berangkat kerja. Bahkan aku sempat tidak masuk selama seminggu. Anehnya aku tidak mau ditinggal Mas “H” kerja. Ada perasaan ketakutan yang luar biasa menyelimuti diriku saat itu.

Kepala dan pundak terasa sangat berat, sering pusing dan pegal-pegal. Hampir setiap saat Mas “H” kuminta untuk memijat bagian pundak, kaki dan kepala apabila rasa sakit itu datang menghampiri. Tragisnya lagi, aku juga tidak mau makan, padahal pada masa seperti inilah justru harus banyak makan asupan yang bergizi.

Kami belum mengerti mengapa seperti ini. Mas “H” juga masih menganggap wajar karena masa kehamilanku semakin tua. Benar-benar aku sudah payah untuk bekerja lagi. Pernah suatu saat aku kuatkan diri untuk berangkat kerja. Sesampainya di kantor rasanya biasa saja. Tapi ketika pulang ke rumah, rasa sakit mendera kembali. Hingga aku hanya bisa tiduran saja. Mendapati gejala yang tidak wajar itu, Mas “H” mencoba mencari ‘orang pintar’ yang bisa mengobati

Kata teman-teman, gejala seperti itu biasanya karena guna-guna. Datanglah orang pintar yang dimaksud. Sebut saja namanya Fadli. Lelaki paruh baya itu datang bersama seorang temannya. Kondisiku yang kian parah memaksa diriku hanya menerimanya sambil terbaring lemas. Beberapa saat setelah proses pengobatan dimulai, aku sempat mengamuk lalu tidak sadarkan diri.

Aku tidak tahu bagaimana cara pengobatannya. Menurut penuturan Mas “H”,  Ustad “F” memanggil jin yang menggangguku kemudian dimasukkan ke mediator yang masih rekannya sendiri. Tak lama kemudian sang mediator berulah seperti babi. Ia terus bergerak-gerak sambil mengeluarkan suara babi.

Jin babi itu disuruh keluar dari ragaku, tapi tetap enggan keluar. Akhirnya Ustad F memaksanya. Entah bagaimana caranya, katanya jin babi itu sudah keluar. Konon, jin babi itu berasal dari empang yang berada tidak jauh dari rumahku. Antara percaya dan tidak, kami hanya mengiyakan saja penjelasan Ustad F.

 Setelah pengobatan malam itu, memang kondisiku membaik. Tapi aku masih enggan untuk berangkat kerja. Karena itulah pengobatan diulang sampai tiga kali. Sampai akhirnya, ia datang bersama timnya ke rumah. Katanya, ia perlu menggelar ruwatan untuk membersihkan rumah dari pengaruh makhluk ghaib tersebut.

Karena kondisiku masih payah, Mas “H” mencari ‘orang pintar’ lagi. Atas saran dokter spesialis kandungan dimana aku rutin memeriksakan diri, kami mendatangi klinik seorang dokter di daerah Jakarta yang menggabungkan pengobatan medis dan non medis. Hasil pemeriksaan klinis, alhamdulillah kandunganku dinyatakan sehat. Kemudian aku disuruh terapi di ruang sebelahnya. Di ruang tersebut sudah menunggu lelaki setengah baya yang berbaju hitam. Kami disambut baik. Kemudian diminta menceritakan keluhannya.

Pengobatan yang kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Tapi intinya hampir sama. Pengobatan yang dimaksud menggunakan tenaga jin juga. Pengobatan di tempat ini sempat sampai dua kali. Bahkan kami disarankan untuk pindah rumah. Karena diduga ada sesuatu dengan rumah kami. Karena kondisiku masih tetap payah walaupun telah menjalani pengobatan.

Dengan sangat terpaksa aku mengajukan diri untuk mengambil cuti hamil lebih awal dari waktunya. Semua itu kulakukan demi kebaikan semua pihak. Sebagian tugas kantor kupercayakan kepada “R”. Meski ada beberapa sifatnya yang kurang berkenan, tapi setidaknya, ia bisa menyelesaikan tugas harian.

Aku bersyukur, akhirnya anakku lahir dengan selamat. Dia sehat dan cantik. Dalam hati aku sangat bersyukur kepada Allah. Karena sekali lagi anakku lahir dengan sehat jasmani dan rohani. Padahal selama hamil, benar-benar kondisiku sangat payah.

 

Terbelenggu cinta sesama jenis

Tiga bulan setelah melahirkan aku masuk kantor kembali. Aku bersikap biasa. Bekerja seperti biasa. Tapi beberapa hari kemudian, aku mendengar gosip yang kurang menyenangkan. Ada isu bahwa aku akan dikeluarkan dari kantor. Posisiku akan diisi oleh eksekutif dari kantor pusat.

Aku terkejut dengan berita tersebut. Padahal aku tidak pernah punya niat mengundurkan diri dari kantor. Dan aku kan sedang cuti hamil sehingga aku tidak menganggapnya sebagai penghalang untuk terus berkarir.

Aku penasaran. Siapa yang menyebarkan isu tersebut. Hingga semua karyawan menganggapnya itu berita benar. Dari sekian orang yang kutanya, ternyata semua berita itu bermuara pada “R”, orang yang kupercaya untuk mengemban amanah selama aku cuti.

“R” hanya tersenyum. Dia tidak membela diri ketika kutanyakan mengapa tega bersikap begitu. Saat itu, aku mulai bertanya apa motif “R” yang sebenarnya. Aku mulai merunut ke belakang. Enam bulan lamanya, aku menderita saat hamil. Dan sekarang, di kantor aku dibuatnya salah tingkah.

Suatu ketika, aku menerima kado dari “R”. Katanya, itu kado kelahiran atas anakku yang kedua. Aku sempat heran juga. Mengapa baru sekarang dia memberinya? Mengapa tidak sedari dulu, waktu anak keduaku lahir dan menyerahkannya di rumah? Ah, biarlah. Kado itu pun kuterima.

Waktu terus berjalan. Tiga bulan sudah aku kembali bekerja. Namun, di bulan yang ketiga itu pula aku merasakan keanehan dalam diriku. Entah kenapa, mulai muncul perasaan senang berduaan dan berlama-lama ngobrol dengan “R”. Aku juga senang memandangi wajahnya. Senang mendengar suaranya. Padahal sebelumnya, tidak ada perasaan seperti itu.

Perasaan aneh itu muncul hanya berselang beberapa hari setelah aku menerima satu karyawati kontrak. Karena aku melihat “R” sering keteteran mengerjakan tugasnya. Sementara perkembangan perusahaan terbilang cepat. Aku tidak ingin harus pulang malam setiap hari, karena pekerjaan yang belum terselesaikan.

Ia mulai mengirim pesan pendek tiap malam. Biasanya antara jam sebelas hingga dua belas. Mulanya, dia hanya kirim SMS yang lucu-lucu. Hingga akhirnya aku menikmati dan menjawab SMSnya. SMS pun terus mengalir. Perasaan suka itu pun semakin terpupuk. Aku terperangkap dalam perasaan cinta sejenis. Yang lebih parah, hasratku tidak bertepuk sebelah tangan. Nampaknya “R” juga memiliki perasaan yang sama kepadaku.

Lama kelamaan, perasaan sayang itu melebihi kasih sayang antara atasan dan bawahan. Bahkan lebih cenderung ke perasaan cinta. Aku sendiri bingung dengan apa yang terjadi pada diriku. Terkadang setelah shalat aku menyadari bahwa ini salah, dan sebenarnya aku tidak punya potensi seperti inid alam diriku. Menyadari perkembangan yang negatif itu, aku cerita secara terbuka kepada Mas “H”. Ia suamiku. Sudah seharusnya ia tahu apa yang terjadi dalam diriku sejak awal.

Mas “H” tidak percaya ketika kuceritakan hal ini. Secara penampilan, “R” tidaklah cantik. Wajahnya biasa saja. Masih banyak karyawati yang jauh lebih cantik darinya. Tapi sama sekali aku tidak tertarik dengan mereka.

Kaget juga ia mendengarnya. Selama ini, tidak keanehan dalam diriku, selain saat hamil anak yang kedua. Selebihnya, aku tidak memiliki catatan negatif.  Dalam sujud panjangku, aku sering menangis. Aku tahu perasaan ini tidak wajar. Tapi aku masih belum tahu bagaimana cara menyelesaikannya.

Yang terjadi justru sebaliknya. Perasaan sayang dan cinta kepada “R” semakin menguat. Meski juga sudah ada karyawati baru, tapi aku lebih menikmati suasana berduaan dengan “R”. Karena itulah, aku dan “R” masih sering kerja lembur. Walau sebenarnya pekerjaan kami sudah bisa terselesaikan tanpa harus lembur dengan tambahan karyawati baru. Diam-diam aku akan menikmatinya sendiri.

Meski telah berupaya sekuat tenaga untuk mengusir dan menghapus perasaan itu, tapi semua usahaku sia-sia belaka. Aku justru semakin tergila-gila. Dan hal ini mengakibatkan konflik dalam rumah tangga ku.

Aku mulai tidak peduli dan kuragn perhatian kepada buah hatiku. Ketika hari libur kerjaku hanyalah tidur dan tidur. Sementara dua anakku kuserahkan sepenuhnya kepada pembantu dan suamiku. Buah hatiku yang masih merah itu pun tak kuasa meluluhkan perasaanku. Aku enggan menggendongnya atau sekadar melantunkan nyanyian anak-anak menjelang tidur.

Yang terbayang selalu wajah “R”. Perasaan ingin berdekatan dengannya. Sampai terbawa ke alam bawah sadar. Dalam tidur nyenyakku aku sering mengigau dan memanggil nama “R”. Bahkan dengan tegas aku menantang suamiku untuk berpisah. “Kalau kamu tidak mau aku seperti ini. Lebih baik aku hidup sendiri. Aku bisa menghidupi diriku sendiri.” Begitulah aku menantang Mas “H”.

Aku tidak lagi memikirkan suami dan dua anakku. Yang terbayang dalam pikiran hanyalah “R”. Bahkan sempat terlontar ucapan yang memiriskan hati bila mengingatnya. “Lebih baik bersama dia saja,” kataku suatu saat.

Suatu hari Mas “H” membeli Majalah Al-Iman di lapak koran. Ia tertarik dengan salah satu judul kesaksiannya. Dari sanalah, kami mengetahui terapi ruqyah untuk mengusir gangguan jin. Karena apa yang kualami dan kurasakan sangat kuat mengindikasikan bahwa diriku terkena gangguan jin. Setidaknya begitulah analisa suamiku.

Mas “H” menghubungi Ustadz dari Tim Ruqyah yang tertera di majalah tersebut dan membuat janji. Mulailah tetapi demi terapi kami jalani. Pada pertemuan ketiga, dengan ridha Allah aku mendapati perkembangan yang signifikan. Karena saat itu benar-benar nyata bahwa selama ini yang membuatku seperti ini adalah makhluk yang bernama jin. Dalam dialog itu jin mengaku dikirim “R”, orang yang selama ini mengganggu pikiranku.

Wallahu a’lam bishshawab. Allah Yang Maha Tahu. Aku diminta oleh ustad untuk tidak berburuk sangka dan menyalahkan orang lain. Tapi itulah yang kurasakan.

Setelah beberapa kali diruqyah, kondisiku jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Rasanya seperti baru dilahirkan kembali. Walaupun demikian aku putuskan untuk terus rutin menjalani terapi ruqyah. Aku tidak mau lagi coba-coba berobat ke yang bukan syar’i. Semoga diringankan langkah kami agar lebih baik dan selalu mendapatkan bimbingan dan ridha-Nya.

Sebagaimana diceritakan oleh “W” pada sebuah majalah islam.

BILA TERLANJUR MEMBELI

BILA TERLANJUR MEMBELI

 Gambar

Pernahkah sahabat semua merasa terlanjur membeli sesuatu dengan harga yang kemahalan? Terlebih jika barang yang Anda beli kemahalan tsb ternyata cacat, rusak atau tidak nyaman dipakai. Bagaimana perasaan Anda? Tentu Anda sangat kecewa, marah, jengkel karena merasa dibodohi. Anda merasa tertipu  dan jengkel kok bisa-bisanya dulu kita tidak teliti sebelum membeli. Perasaan seperti itu kadang berjam-jam bahkan berhari-hari terus berkecamuk dalam pikiran kita.

 

Lalu apa yang akan Anda lakukan? Mendatangi lagi penjualnya? Mengembalikan barang yang kita beli? Paling tidak agar si penjual mendapat pelajaran agar tahu kalau kita marah? Bagaimana jika setelah kita datangi penjualnya ternyata sudah pindah? Apakah sebaiknya kita tulis di koran saja agar menjadi pelajaran bagi yang lain? Tapi jika peristiwa itu melibatkan kebodohan kita sendiri, maka itu sama saja mempermalukan diri kita sendiri dan membuka aib kita sendiri.

Terkadang dalam hidup ini hal-hal seperti di atas terjadi, dan terkadang kita harus menyederhanakan permasalahan dengan cara men-stop atau mencukupkan diri dalam penyesalan dan terus melangkah ke depan. Biarkanlah kesalahan di masa lalu berlalu. Maafkanlah orang yang membodohi Anda, dan terutama maafkanlah diri Anda sendiri. Karena biar bagaimanapun hal itu juga terjadi akibat kecerobohan diri kita sendiri.

Karena jika kita tidak memaafkan peristiwa di masa lalu, hal itu akan terus membayangi kita, menyiksa batin kita dan membuat hari-hari kita lalui dengan tidur tak nyenyak. Kita harus berlapang dada akan semua kejadian itu. Kita harus meyakini bahwa apapun itu adalah bagian dari rejeki yang ditakdirkan untuk kita. Barang burung yang terlanjur kita beli dan sekarang mau tidak mau menjadi milik kita adalah bagian dari rejeki kita. Sedangkan pengorbanan yang terlanjur keluar, kalaupun tidak Anda ikhlashkan tetap akan menjadi milik orang lain, dan Anda tidak mendapat pahala apa-apa. Sebaliknya jika kejadian di masa lalu Anda ikhlashkan akan mendapatkan pahala dan mudah-mudahan mendapatkan ganti yang lebih baik dari Allah SWT.

Bagaimana dengan barang yang terlanjur kita beli? Apa kita buang saja? Cobalah Anda tengok lagi. Terkadang barang yang kelihatan buruk ternyata juga tidak sepenuhnya buruk. Dia masih mendatangkan manfaat walaupun tidak seperti yang kita harapkan. Atau mungkin ia masih bisa diperbaiki dan ditambal sana sini sehingga akhirnya menjadi seperti yang kita harapkan. Hanya saja, Anda mesti tahu caranya untuk memperbaiki. Sebab salah-salah malah benar-benar tidak bisa digunakan.

Bagaimana jika sekarang masalahnya bukan masalah membeli barang, melainkan Anda salah memilih jalan hidup dan mendapatkan kehidupan yang buruk. Atau Anda salah memilih pasanga hidup? Dan kita harus mengisi hari-hari kita dengan kesedihan dan kepahitan?? Bagaimana jika tak hanya hati tapi badan pun didera penyiksaan??

Padahal tadinya kita sudah ngotot dan berkorban habis-habisan untuk mendapatkan sesuatu yang memang menjadi pilihan kita. Ternyata setelah sekian lama baru kita sadari bahwa diri kita telah tertipu dengan angan-angan sendiri atau terbuai dengan janji-janji kosong. Bukankah ini mirip dengan membeli barang buruk dengan harga yang terlalu mahal? Sudah buruk, kemahalan pula.

Mungkin ini adalah dosaku sendiri. Orang yang seharusnya memberikan perlindungan dan kasih sayang kepadaku justru kini menyiksaku. Apa saja yang aku lakukan sebagai istri nampak salah di mata dia. Jika aku memilih diam tidak membantah kata-katanya, dibilang aku tidak mendengarkannya. Jika aku ikut berbicara, dibilang aku membantahnya.  Dan jika emosinya memuncak, minimal makian dan kata-kata kasar menderas ke kupingku. Dan jika aku mencoba membela diri, malah bisa-bisa kata-kata berubah menjadi tempelengan dan pukulan. Tidak jarang aku menjadi samsak tinju suamiku.

Pada awalnya keluarga ku dan keluarga suamiku tak ada yang tahu. Orang menyalahkanku karena aku merahasiakan semua ini. Namun tahukah sahabat semua, mengapa aku merahasiakan hal ini? Karena demi menjaga martabat Islam dan dakwah di mata orang. Karena aku adalah orang pertama yang mengenakan jilbab di keluarga besarku. Sejak SMU aku sudah berkomitmen memakai jilbab. Padahal ketika itu, rezim negeri ini masih sangat tabu dengan jilbab. Di sekolah aku diancam akan dikeluarkan dari sekolah jika tetap bertahan dengan jilbabku. Di rumah pun orang tuaku mendesak aku untuk melepaskan jilbab. Namun aku kukuh dengan pendirianku.

Demikian pula ketika akhirnya aku aktif dalam sebuah pengajian, kedua orangtuaku kurang setuju. Dan akhirnya ketika aku memilih salah seorang aktifis dakwah menjadi pendampingku, orangtua ku pun tidak setuju. Namun aku ngotot dengan pendirianku. Bagiku jika datang lelaki sholeh melamarku, maka pantang aku tolak. Begitu doktrin yang kuperoleh dari guruku.

Maka aku dan suamiku adalah sample dan contoh di mata orang lain. Mereka menganggap kami adalah keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Selalu terlihat tekun beribadah dan aktif dalam dakwah. Kemana-mana mengenakan jilbab sedangkan suamiku berpenampilan layaknya aktifis dakwah lainnya mengenakan baju koko dan memelihara jenggot.

Maka aku berfikir, jika aib ini sampai diketahui keluargaku maka aib ini bukan hanya aib diriku, melainkan juga aib organisasi dakwah dan sekaligus aib kaum muslimin. Karena di luar sana banyak sekali serigala-serigala sekuler yang mencari-cari celah untuk menjelekkan umat Islam. Di lingkungan tetanggapun suamiku dikenal sebagai aktifis dakwah. Bahkan di kantor pun aku dan suami ku sering menjadi sorotan, terutama ketika pemilu, mereka menganggap aku dan suamiku pendukung sebuah partai yang dikenal sebagai partai Islam.

Untuk itulah aku simpan rahasia ini rapat-rapat. Pernah seseorang bertanya kenapa ada memar di wajahku. Aku hanya berkata karena kejedot pintu lemari atau alasan lainnya yang masuk akal. Jika mereka tahu yang sesungguhnya maka aku khawatir wajah dakwah akan tercoreng bahkan bisa-bisa orang yang dengki mencibir dan menggunakan hal ini sebagai gosip untuk menjelekkan pendukung partai Islam.

Tapi aku bukannya tidak berbuat apapun untuk menyelesaikan masalah ini. Sudah lama aku pernah mencoba mengangkat masalah ini pada guru ngajiku dan persoalan ini diangkat di internal organisasi dakwah tempat suamiku aktif di dalamnya. Namun percayakah sahabatku semua, suamiku itu sangat pandai berbicara sehingga tak ada satupun orang yang percaya bahwa suamiku tega melakukan perbuatan seperti itu. Maka tampaklah aku  seperti orang yang melebih-lebihkan cerita. Dan suamiku tahu hal ini. Ia tahu bahwa orang tak akan ada yang percaya bahwa dirinya bisa melakukan hal seperti itu. Ini diungkapkan sendiri oleh suamiku bahwa ia menantang silakan saja beritahu orang lain pasti tidak akan ada yang percaya.

Sebagian sahabatku ada yang kuceritakan masalahku ini, namun merekapun tak ada yang percaya. Karena disamping melihat suamiku adalah orang terhormat, mereka juga tidak melihat alasan apapun suamiku melakukan itu. Bagaimana mungkin terjadi? Biasanya suami kasar itu suami yang stress setelah PHK dan mengalami tekanan ekonomi. Atau ada pihak ketiga sehingga ia tidak puas dengan istrinya. Tapi kalau ini apa alasannya ? Kalian keluarga yang harmonis, harta ada, anak ada, dua-duanya paham agama, pihak ketiga juga tidak ada.. Aku juga bingung menjelaskannya.

Akhirnya tidak tahan juga aku ceritakan ini kepada ibuku. Hanya kepada ibuku. Namun di luar dugaanku ibuku justru menyalahkanku mungkin aku kurang menghormati suami dan kurang dalam pelayanan kepada suamiku. Ibuku melarangku untuk bercerai karena alasan yang sama yaitu : harga diri. Karena keluarga besarku adalah keturunan ningrat dan tak ada satupun anak-anaknya yang cerai. Semua anak-anaknya harus dipandang harmonis dan sukses di mata orang lain.

Akhirnya aku berusaha mencari tahu dan mencari jawaban atas apa yang aku alami ini. Mengapa suamiku bertindak seperti ini padahal aku selalu berusaha melayani sebaik-baiknya.

Dari beberapa orang yang kutanyai dan pernah melihat dan mengamati fenomena serupa, ternyata hal ini terjadi karena inferior syndrom. Biasanya orang seperti ini selama masa kecilnya tertekan dan selalu tidak dihargai atau dilecehkan, dikecilkan dll. Sedangkan ia tidak memilik kemampuan untuk menunjukkan kuasanya, mungkin karena ia anak bungsu.

Ada sebagian syndrom inferior complex ini terjadi pada anak laki satu-satunya di tengah 12 anak wanita. Dan selama masa kecilnya, si anak laki-laki ini merasa tertindas di bawah perintah kakak-kakak wanitanya. Maka bibit inferior ini baru meledak setelah ia kelak menikah. Ketika ia memiliki istri, maka sebagai suami ia berkuasa penuh terhadap istrinya. Maka untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia memiliki kuasa atas wanita setelah bertahun-tahun tertekan oleh wanita (kakak-kakaknya). Dendam masa kecil ini tidak disadari mengendap dalam hatinya, dan mendapatkan peluang untuk terbalaskan ketika ia telah memiliki istri.

Maka orang dengan syndrom seperti ini akan semakin menjadi-jadi dan over acting (lebay) jika di hadapan orang banyak. Ia seolah ingin menunjukkan bahwa ia menguasai istrinya. Ia jadi sering memerintah dan menyuruh istrinya di depan orang banyak (misalnya kalau ada pesta pernikahan). Dan jika aku tidak mengacuhkan perilakunya yang lebay itu, hampir di pastikan di rumah pasti dijadikan samsak tinju lagi.

Mungkin ada yang bertanya bagaimana bisa aku tidak mengetahui hal ini ketika ta’aruf dulu? Sebagaimana syndrom ini dijelaskan di atas, bahwa penyakit ini adalah penyakit jiwa yang terpendam dan baru muncul setelah ia menikah. Maka ketika belum menikah, perangai ini sama sekali belum muncul. Namun sebenarnya di awal-awal sehabis menikah, dalam kasusku ini, gejala aneh ini sudah mulai aku rasakan. Namun karena aku sebagai wanita yang tidak banyak pengalaman, aku hanya menganggap biasa perilaku kasar suamiku itu sebagai perilaku laki-laki pada umumnya. Namun aku baru menyadari bahwa ini bukan hal yang normal setelah sedikit demi sedikit tingkat kekasarannya meningkat.

Maka belasan tahun sudah perkawinanku seperti ini. Aku bukannya tidak tahu undangpundang KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) namun seperti telah aku ceritakan aku menghadapi dilema karena aku tidak rela agama dan organisasi dakwahku tercoreng. Biarlah aku yang menderita asalkan agamaku tidak ternista. Apalah artinya penderitaan ku dibandingkan dengan harga diri dan kehormatan agamaku.

Aku sendiri takjub dan heran bagaimana aku bisa bertahan selama ini. Bahkan semakin lama aku semakin terbiasa dengan situasi ini. Kadang aku berfikir hendak bercerai dan sudah tidak tahan lagi. Namun aku teringat bahwa cerai adalah hal yang dibenci Allah.

“Dari Muhammad bin Utsman bin Abi Sya’ibah : Allah tidak menghalalkan yang lebih dibenci daripada talak (cerai)” (H.R. Al-Hakim)

Kadang aku juga bertahan karena mempertimbangkan anak-anak. Pernah aku bicarakan masalah ini dengan anak-anak dan mereka tidak mau ayah bundanya bercerai. Akhirnya aku sengaja menyekolahkan anakku jauh-jauh di sebuah pesantren yang berbeda provinsi dengan tempat aku tinggal. Supaya ia tidak melihat kejadian ini dan tetap menganggap orangtuanya baik-baik saja.

Akhirnya hanya kepada Allah sajalah aku bertawakal dan memohon pertolongan. Aku hanya berharap semoga hal ini menjadi pelajaran bagi kita semua agar tidak menganggap remeh dan sembarangan dalam memilih pasangan hidup. Karena sekali kita salah memilih, bisa jadi tak ada jalan untuk berbalik arah lagi.

Andaikan pun itu bisa, maka keadaan belum tentu menjadi semakin baik. Menjadi seorang janda dengan membesarkan anak-anak sendirian bukanlah hal yang mudah. Aku tidak mau mendikte Allah, bila memang ini harus kujalani biarlah kujalani. Jika Allah menghendaki lain, tentu Dia akan menunjuki jalan keluar dari masalah ini. Aku hanya berharap semoga kesabaranku ini mendapatkan pahala berlipat ganda dari Allah subhana wata’ala.

Kisah nyata sebagaimana diceritakan oleh Akhwat “X” di kota “C” kepada pondok curhat.